Powered by Blogger.

Other Recent Articles

Subscribe

Enter your email address below to receive updates each time we publish new content..

Privacy guaranteed. We'll never share your info.

Feature Posts

Archive

Random Post

Rating for homework-student.blogspot.com Check google pagerank for homework-student.blogspot.com

Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Thursday, March 24, 2011

Melatih Imajinasi



Sekedar untuk melatih, saya ingin anda melakukan satu hal dengan bantuan teman untuk membacakan stepnya. Sambil menutup mata, coba bayangkan dalam pikiran anda hal-hal berikut ini :
  1.  Bayangkan sebuah baju kaos tanpa kerah, berwarna merah, mempunyai saku di tengah.
  2. Sekarang baju kaos ini membesar samppai 5 kali dari ukuran semula.
  3. Bayangkan baju kaos ini mempunyai kepala, kaki, tangan.
  4.  Bayangkan baju kaos ini mengajak anda berbicara, berkenalan dengan anda.
  5. Bayangkan anda mendengar baju kaos itu berkata, “Hi… Apa kabar ? Senang berkenalan dengan  anda siap nama anda.

Dapatkah anda melakukan hal di atas dengan senang hati ? Bila Ya, maka anda telah mengaktifkan otak kanan anda dengan baik. Otak kanan berhubungan dengan kreativitas dan imajinasi. Bila anda mengalami kesulitan dan merasa hal ini tidak logis, karena tidak ada baju yang bias bicara, ini berarti anda masih terkunci oleh pemikiran yang didasarkan pada kerja otak kiri.

Agak kolot yah ? gpplah... dicoba aja. Anda bisa mencobanya kepada teman tanpa membiarkannnya mengetahui tujuan sesungguhnya (paragraph 2) atau bahkan anda bisa merubah permainannya. 

Mengapa Kita Lupa atau Sulit Menghapal ?



Mana yang lebih besar, 4/11 ataukah 5/12 ? Coba hitung dengan kemampuan otak Anda. Eitzz dilarang menggunakan kalkulator. Jawabannya adalah “Siapa Peduli”. 
Informasi ini tidak relevan dan tidak ada gunanya. Mungkin anda berpikir, “Buat apa saya susah-susah menghitung. Apa dipikir saya ini kurang kerjaan ? Hmm.. tepat sekali. Mengapa demikian ? Karena informasi ini tidak ada gunanya, maka anda tidak akan berusaha untuk menjawabnya. Bagaimana jika ada seorang pengusaha mengatakan “Bila anda bisa menjawab pertanyaan saya, maka saya akan memberi uang sebesar Rp. 1 Milyar. “Bagaimana reaksi anda kali ini ? Anda akan segera mengitung. Nah.. hasil perhitungan anda tentu dipengaruhi oleh kemampuan dan konsentrasi anda.

Penjelasan di atas sebenarnya sama dengan cara kita menerima, mengolah dan menyimpan informasi. Semakin baik cara kita menerima, mengolah dan menyimpan, semakin mudah kita untuk mengingat kembali data yang telah disimpan tersebut.

Lalu mengapa kita mudah lupa atau sulit mengingat informasi  yang kita butuhkan ? Masalah yang sebenarnya bukanlah terletak pada sulitnya, tetapi bagaimana kita memasukkan informasi itu ke dalam memori kita. Sebera kuat dan akurat informasi itu tertanam dalam memori kita. Jika saat memasukkan informasi saja kita sudah mngalami kesulitan, jangan harap anda dapat dengan mudah mengingat kembali data tersebut.
Berbicara mengenai konsep ini sebenarnya ada beberapa factor yang mempengaruhi, di antaranya :

  1. Tidak Relevan dan Tidak Penting
Di Kelas biasanya ada murid yang tidak bisa menghapal suatu materi pelajaran namun dapat menghapal alur, tokoh, watak dan apapun mengenai sinetron favoritnya ! Apakah murid ini bodoh ? No. Dia hanya tidak tertarik dengan materi yang diajarkan. Otak kita memproses sangat banyak informasi dalam satu waktu. So, hanya informasi yang kita anggap penting saja yang akan mendapat perhatian.

  1. Interferensi atau Gangguan
Hal ini awam terjadi pada pelajar. Misalnya, saat kita sedang membaca dengan mengeluarkan suara dan pada saat yang bersamaan anda mendengarkan siran berita. Pasti buyaaaarr,  semua kacau. Otak kita akan menjadi bingung dan anda akan sulit mengingat informasi yang tadi dihapal.

  1. Tidak Fokus atau Tidak Konsentrasi
Bila kita berusaha memasukkan informasi ke dalam memory kita dan pada saat yang bersamaan dalam pikiran muncul banyak pikiran yang silih berganti, otak akan bingung dan tidak tahu harus memberikan perhatian kepada informasi yang mana. Hal ini berakibat melemahnya kemampuan penyimpanan informasi.

  1. Stress atau Beban Mental Lainnya
Kondisi pikiran yang tidak mendukung akan berpengaruh terhadap seberapa mudah informasi itu diingat kembali saat dibutuhkan.

  1. Fisik yang Lelah
Para pakar saat ini mengetahui bahwa pikiran dan tubuh saling mempengaruhi. Saat pikiran kacau, kondisi tubuh akan terpengaruh. Demikiabpula jika kondisi lelah, maka pikiran juga akan ikut terganggu.

  1. Pengaruh Zat Kimia Tertentu
Dengan mengomsumsi Rokok, alkohol, dan obat-obatan tertentu, hal itu akan menggangu kerja otak. Riset membuktikan bahwa nikotin yang terdapat dalam asap rokok dapat membunuh otak kita. Beitupun alkohol dan zat yang ada pada jenis obat-obatan terlarang.

Alhamdulillah ilmu ini saya dapatkan dari sebuah buku “GENIUS LEARNING REVOLUTION” oleh Hamdan W Tarerasi.

Tuesday, March 1, 2011

Anak belajar dri apa yang dilihat, didengar dan dirasakan


Ada seorang kakek tinggal dengan anaknya. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orang tua yg pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yg bergetar dan mata yang rabun membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu didalamnya tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “

Lalu, kedua suami istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan.. Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan.

Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput sudut mata si kakek. Tak ada gugatan darinya. Tetapi, tiap nasi yang dia suap selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari anak dan menantunya selalu omelan agar ia tidak menjatuhkan makanan lagi. Cucunya yang berusia 6 tahun memandang semuanya dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Tak diduga, anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orang tuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, air mata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orang tua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.
Anak-anak adalah refleksi diri kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak. Pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak.

Orang tua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Source
http://www.facebook.com/group.php?gid=144536048239