Powered by Blogger.

Other Recent Articles

Subscribe

Enter your email address below to receive updates each time we publish new content..

Privacy guaranteed. We'll never share your info.

Feature Posts

Archive

Random Post

Rating for homework-student.blogspot.com Check google pagerank for homework-student.blogspot.com

Showing posts with label Kisah Teladan. Show all posts
Showing posts with label Kisah Teladan. Show all posts

Sunday, May 8, 2011

Sikap Itsar


Huzaifah al-Adawiyyu berkata, “Pada saat terjadinya perang Yarmuk, aku mencari anak pamankudengan membawa sedikit air. Aku berkata, ‘Jika anak pamanku akan meninggal dunia, aku akan memberinya air dan akan mengusah wajahnya dengan air.’ Ketikaaku dapat menemukannya, aku berkata, ‘Bagaimana kalau engkau aku beri minum?’ Ia memberi isyarat kepadaku bahwa ia ingin minum, tiba-tiba orang lain berkata, ‘Air, air’. Anak pamanku memberi isyarat kepadaku agar aku pergi kepada orang tersebut. Aku pun mendatangi orang tersebutdan ternyata ia adalah Hisyam bin al-As. Aku berkata, ‘Bagaimana kalau engkau aku beri minum?’ Hisyam mendengar suara orang lain, ‘Air, air,’ Hisyam member isyarat kepadaku agar aku pergi kepada orang tersebut, tetapi ternyata ia telah meninggal dunia. Aku balik ke tempat Hisyam, ternyata ia telah meninggal dunia. Kemudian, aku balik ke tempat anak pamanku, ternyata ia juga telah meninggal dunia. Semoga Allah merahmati mereka.”
Begitulah ketiga syuhada di atas membuat contoh tentang itsar, yaitu mendahulukan orang lain atas dirinya. Itulah akhlak orang muslim dalam hidup ini.

Sa’labah yang Ingkar


Sa’labah dikenal sebagai seorang yang taat beribadah, tetapi ia sangat miskin. Suatu hari, ia berkunjung ke tempat Rasulullah saw. untuk mengadukan nasibnya tersebut dan memohon kepada beliau agar mau mendoakan  supaya dia diberi harta kekayaan. Mendengar permohonan itu Rasulullah saw. Bersabda, “Hai Sa’labah, sesungguhnya harta yang sedikit, tetapi disyukuriitu lebih baikdaripadaharta yang banyak tetapi tidak bisa mensyukurinya.” Sa’labah pulang dengan kecewa.

Keesokan harinya ia datang kembali dengan permintaan yang sama. Karena memaksa, akhirnya Nabi saw. mengabulkan permintaannya. Beliau berdoa kepada Allah swt. agar Sa’labah dikaruniai harta kekayaan. Akhirnya Allah pun mengabulkan permintaan beliau tersebut.

Sa’labah kini telah berubah, ia menjadi seorang yang kaya raya, kambing-kambing peliharaannya berkembang dengan pesat. Namun, ia tidak bisa mensyukuri, bahkan jauh dari Allah swt. ia tidak lagi rajin beribadah dan sering meninggalkan shalat.

Pada suatu saat Nabi saw. bertanya kepada para sahabat, “Kemanakah Sa’labah?” Mereka menjawab, “Sa’labah disibukkan dengan kambing-kambingnya di tempat penggembalaan.” Kata Nabi saw., “Celakalah Sa’labah.”

Pada hari yang lain Nabi saw. mengutus dua orang untuk meminta zakat kepada Sa’labah, tetapi ia tidak mau memberikan zakatnya, bahkan mengejek kedua utusan itu. Setelah keduanya melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi saw., beliau bersabda, “Sungguh celakalah Sa’labah.”

Demikianlah keingkaran Sa’labah terhadap nikmat Allah swt. Akhirnya, ia meninggal dunia dalam keadaan dimurkai Allah swt.