Powered by Blogger.

Other Recent Articles

Subscribe

Enter your email address below to receive updates each time we publish new content..

Privacy guaranteed. We'll never share your info.

Feature Posts

Archive

Random Post

Rating for homework-student.blogspot.com Check google pagerank for homework-student.blogspot.com

Friday, November 26, 2010

Surat-Surat Al Qur'anlah Yang Membuat Kafir Terkagum-kagum


Bagaimana Al-Qur’an bisa mempengaruhi bangsa Arab kala itu sedemikian rupa? Bagaimana pula mereka, yang mukmin maupun yang kafir, sama-sama mengakui adanya kekuatan ‘sihir’ Al-Qur’an?
Sebagian pakar dalam masalah keunggulan-keunggulan Al-Qur’an melihat Al-Qur’an secara keseluruhan kemudian memberikan jawaban. Sebagian yang lain menyebutkan hal-hal selain aspek artistik, yakni tema-tema Al-Qur’an sesudah sempurna, sebagai sebabnya. Yang mereka maksud antara lain pensyariatan yang cermat dan cocok untuk setiap waktu dan tempat, pengabaran gaib yang terbukti kebenarannya setelah beberapa tahun, dan ilmu-ilmu alam yang dikandung Al-Qur’an baik mengenai penciptaan alam maupun manusia.
Namun, tinjauan semacam itu hanyalah menetapkan kelebihan Al-Qur’an sesudah sempurnanya. Bagaimana dengan beberapa surat – meskipun sedikit – yang tidak mengandung tasyri’, kabar gaib, maupun ilmu alam? Sesungguhnya beberapa surat yang sedikit itu telah mampu menyihir bangsa Arab sejak awal turunnya Al-Qur’an, dimana saat itu belum ada tasyri’ ataupun tema-tema besar. Namun justru surat-surat tersebut itulah yang telah menyentuh perasaan mereka dan membuat mereka terkagum-kagum.
Dengan demikian, tidak bisa tidak, surat-surat yang sedikit itu mesti mengandung unsur yang bisa menyihir pendengarnya dan mempengaruhi perasaan mereka baik mukmin maupun kafir. Dan apabila kita memperhitungkan pengaruh Al-Qur’an terhadap masuk Islamnya kaum muslimin saat itu, maka surat-surat yang turun awal-awal sangatlah besar andilnya, meskipun jumlah muslimin saat itu hanya sedikit. Hal ini karena saat itu secara dominan mereka benar-benar terpengaruh oleh Al-Qur’an saja, kemudian beriman. Adapun kebanyakan orang yang masuk Islam setelah kaum muslim telah banyak dan agama Islam telah kuat, maka ada banyak hal lain bersama-sama Al-Qur’an yang mempengaruhi mereka yang kemudian masuk Islam. Masing-masing dari mereka melewati jalan yang berbeda-beda dalam memasuki Islam. Jadi, dalam hal ini Al-Qur’an bukanlah satu-satunya agen efektif dalam proses keislaman mereka. Hal ini tentu saja berbeda dengan yang terjadi pada awal-awal dakwah Islam.
Sebagian dari mereka beriman karena mereka terkesan dengan akhlaq Rasulullah saw dan para sahabatnya – semoga Allah meridhai mereka.
Sebagian beriman karena mereka simpatik ketika mendapatkan bahwa kaum muslimin menanggung penderitaan, kesempitan, dan siksaan serta meninggalkan keluarga dan karibnya hanya untuk menyelamatkan agama dan bergegas menyambut seruan Tuhan.
Sebagian beriman karena mereka menyaksikan bahwa Muhammad – yang hanya sedikit pengikutnya – ternyata tak terkalahkan oleh siapapun juga. Allah senantiasa menolong dan menjaga kaum mukmin dari makar orang-orang yang membuat makar.
Sebagian beriman setelah syariat Islam ditegakkan sehingga mereka melihat keadilan dan keterbukaan di dalamnya, yang mana hal itu belum pernah mereka lihat sebelumnya dalam aturan-aturan yang ada.
Sebagian yang lain lagi beriman dengan jalan yang berbeda-beda, dimana terkadang melibatkan Al-Qur’an sebagi salah satu unsurnya namun bukan unsur dominan sebagaimana yang terjadi pada awal-awal dakwah Islam.
* * *
Dengan demikian kita harus mencari sumber adanya ‘sihir’ dalam Al-Qur’an sebelum adanya tasyri’ hukum, pengabaran gaib, dan ilmu-ilmu alam, serta sebelum Al-Qur’an mencapai bentuknya yang lengkap dan sempurna. Al-Qur’an yang sedikit, yang ada pada awal-awal dakwah, masih belum mengandung semua itu sebagaimana pada masa-masa setelahnya. Dengan demikian, Al-Qur’an yang sedikit itu mesti hanya mengandung suatu sumber yang asli yang mampu dirasakan oleh bangsa Arab sehingga mereka mengatakan,”Sesungguhnya Al-Qur’an tidak lain hanyalah sihir yang dilontarkan”.
Kisah berpalingnya Al-Walid ibn Al-Mughirah terdapat dalam surat Al-Muddatstsir – surat yang biasanya dikatakan sebagai surat ketiga dalam urutan turunnya wahyu, didahului oleh surat Al-‘Alaq dan surat Al-Muzzammil, namun secara umum dapat dikatakan bahwa surat Al-Muddatstsir merupakan salah satu dari surat-surat yang mula-mula turun.
Jika kita memperhatikan surat surat makkiyah – sebagai contoh – maka kita akan dapat memahami ‘sihir’ macam apa yang ada di dalamnya, yang bisa membuat orang seperti Al-Walid tergetar sedemikian rupa.
Setelah kita membaca ayat demi ayat dalam surat-surat makkiyah, kita akan dapati bahwa disana tidak ada tasyri’ hukum, ilmu alam – kecuali isyarat ringan mengenai penciptaan manusia dari segumpal darah - , ataupun pengabaran gaib yang baru ada setelah beberapa tahun kemudian seperti yang ada dalam surat Al-Ruum (surat ke-84).
Lalu dimana gerangan sihir sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Al-Mughirah setelah ia berpikir dan menimbang-nimbang?
Tidak bisa tidak, dengan demikian, bahwasanya sihir yang ia maksudkan terdapat dalam aspek yang lain selain tasyri’, kabar gaib, dan ilmu alam. Tidak bisa tidak sihir itu mesti terdapat dalam susunan lafazh-lafazh Al-Qur’an itu sendiri, bukan dalam tema-tema yang dikandungnya saja, meskipun kita juga tidak mengabaikan kekuatan dan pengaruh aqidah Islam. Jadi, adanya ‘sihir’ itu ternyata muncul dari alunan lafazh-lafazh Al-Qur’an itu sendiri, yang indah, membekas, efektif, dan memberikan kesan yang mendalam.
Mari kita perhatikan surat yang pertama, yakni surat Al-‘Alaq. Surat ini mengandung lima belas hentian pendek-pendek (fashilat qashirat), sehingga barangkali sepintas lalu menyerupai sajak-sajak sihir atau kata-kata mutiara bersajak yang sangat dikenal oleh bangsa Arab kala itu!
Ada yang mengatakan bahwa itu semua tidak lain hanyalah kalimat-kalimat yang berserakan saja, tanpa ikatan dan pautan satu sama lain. Apakah demikian keadaan surat Al-‘Alaq?
Jawabnya: Tidak! Surat tersebut merupakan pautan-pautan yang serasi, hentian-hentiannya saling berikatan satu sama lain secara internal dan cermat. Demikianlah surat pertama dalam Al-Qur’an. (menaraislam.com)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment